Tuesday, December 20, 2005

Badutisasi

Di tengah keramian masyarakat maya (Cyber Society) yang luas tak bertepi dan gila komunikasi ini, menampilkan page pribadi adalah suatu pekerjaan yang nyaris tanpa beban. Sebagai home page pribadi apalagi dengan domain dan hosting yang serba gratisan maka visi dan misi bukanlah suatu tantangan berat dalam menampilkan sebuah situs. Alih-alih mau menampilkan misi, melihat corak dan warna bannernya saja ketahuan kalau situs pribadi dan serba gratisan itu hanyalah sekedar untuk ( tanpa malu malu) "Aktualisasi Diri" alias "Bergenit Ria" sekaligus "Berbadut Ria" ditengah dunia maya.
Memang membadut di tengah trotoar adalah satu pemandangan yang sangat tidak sedap meskipun bapak bapak terhormat kita sering dan bahkan tlah menjadi budaya dan tanpa malu malu lagi atas nama rakyat membadut di gedung Dewan Perwakilan Rakyat.
Bagi bapak bapak terhormat itu, rasa malu memang seharusnya sudah tidak ada lagi, sebab di sekeliling mereka semuanya adalah para badut. Sementara masyarakat penonton masih sangat suka dengan badutan.
Akan tetapi ada perbadaan mencolok antara membadut di Gedung terhormat itu dengan membadut di tengah keramaian masyarakat maya. Sebab yang satu ini relatif masih bisa menyembunyikan "Kesintingan diri". Kalau toh ditertawakan yang tertawapun tak nampak didepan mata sang badut. Apalagi yang ngakak itu ternyata juga tak kalah norak dan badutnya. Maka, untuk mempropagandakan "Kegenitan" dan "Badutisasi" plus aktualisasi diri itu, tak heran kalau gardu mayaku ini saya jadikan Etalase untuk menampilkan PROFIL dan PUISI serta GALERI pribadi sekaligus memajang apa yang setidaknya menurut saya bernuansa Ng-ilmiah.
Dan entah kenapa, diluar itu saya juga terpikat untuk ber_sok alim pula, mencoba mengisi dan memenuhi Etalase pribadi saya dengan catatan dan artikel artikel yang terkesan religius dan keminter.Hmmm kalau ingat itu, sepertinya Home Page ini kok malahan terkesan "Bergenit ria" juga.
Soo .. nggak papa sebab yang konyol dan genit itulah yang kelihatan gurih. Any way... dan betapapun bego dan konyolnya, yang jelas sama sekali saya nggak berniat membuat sampeyan dongkol kok.
So.....Relax n enjoy aja.

Wassalamualaikum wr wb.

Monday, December 19, 2005

Padamu Negeri

Padamu negeri
Dari rantau aku menyapamu lagi
Apa kabar hari ini
Engkau bilang masih seperti kemarin hari
Padamu negeri
Dari rantau aku bertanya kembali
Tentang bagaimana esok pagi
Engkau pastikan seperti hari ini
Padamu negeri
Aku kapok tak ingin bertanya lagi
Kalau jawabannya selalu begini
Sampai hari kiamat nanti
Padamu negeri
Mana mungkin aku bisa berjanji
Akan segera kembali membawa nyali
Jika semuanya sudah tak berhati
Padamu negeri
Apalah gunanya memekikkan reformasi
Jika etika masih dirobohkan ambisi
Sehingga seantero negeri jadi taman safari
Padamu negeri
Apalah artinya menggulingkan rezim yang kau maki
Jika yang baru ternyata hanya ambil posisi
Menumpuk harta atas nama ibu pertiwi
Padamu negeri
Mana mungkin engkau tak kelihatan ngeri
Bajingan terminal dikeroyok sampai mati
Bajingan nasional dikembang-biakkan bagai merpati
Padamu negeri
Mana mungkin wajahmu nampak ramah berseri
Jika demi sepiring nasi, orang harus bertarung melawan polisi
Sedangkan demi BMW, orang lain tinggal kenakan baju safari
Padamu negeri
Mana mungkin orang kecil tak kan iri
Melihat pejabat dan politisi hamburkan uang di luar negeri
Sedang nelayan, buruh, dan petani makan satu dua kali sehari
Padamu negeri
Aku kapok tak ingin menyapamu
lagiKalau jawabannya selalu begini
Sampai hari kiamat nanti

Aku Kamu & Mereka Sama Saja

Aku juga seperti kamu
Muak menyaksikan keanggunan ibu pertiwi
Diperkosa anak-anaknya sendiri
Di balik jubah kepahlawanan sejati
Aku juga seperti kamu
Geram menatap putera-putera mahkota bangsa
Menantang gas air mata ketika berstatus mahasiswa
Mencekik rakyat jelata ketika sudah bertahta
Aku juga seperti kamu
Dongkol menonton orang-orang pintar di dalam gardu
Teriak keadilan di depan orang-orang lugu
Kemudian berbisik kekuasaan antar rekan sekubu
Aku juga seperti kamu
Jengkel menyaksikan penjahat bisa menjadi aparat
Tersangka bisa menjadi jaksaPenzalim bisa menjadi hakim
Tapi............
Aku juga seperti kamu
Muak bukan karena kita bertakwa
Melainkan karena mereka bukan kita
Mereka hanyalah saudara sebangsa
Dan aku juga seperti kamu....
Geram bukan karena mereka srigala
Melainkan karena kita bukan buaya
Kita hanya sekedar kecoa
Kita dengan mereka ternyata sama saja
Sama-sama ingin berpesta api neraka
Tapi mereka sudah berebut tempat di sana
Kita tidak ikut karena kita tak berdaya
Oh Tuhan, kasihanilah kecoa....