Friday, January 06, 2006

Imam Khomeini: Pelaksanaan keadilan,ada resikonya

Kalau kita melandasi fikiran dengan menyatakan bahwa ahli suluk harus duduk di tepi saja,tentunya para anbya sudah melakukannya,tapi tidak. Nabi Musa b Imran as adalah ahli suluk,tapi dengan begitu dia pegi melawan Fir’aun,dilakukannya hal itu,begitu juga dengan nabi Ibrahim as,begitu pulalah RasululLah sawa.
Bertahun tahun lamanya RasullulLah sawa dalam suluk,ketika didapatkannya kesempatan,didirikannya pemerintahan politik agar supaya dapat dilaksanakannya keadilan.Kira harus mencari kesempatan untuk menegakkan keadilan maka setiap otang dan apapun yang dimiliki harus di kerahkan.
Kalau keadaannya kacau tidak akan dapat,ahli irfan tidak dapat mengutarakan irfannya,ahli falsafah dengan falsafahnya ahli fiqih dengan fiqihnya, tapi ketika ada pemerintahan berupa memerintah keadilan Ilahi, keadilan berjalan, tidak memberikan jalan “pengambil kesempatan” untuk sampai kepada tujuannya,akan terdapatlah keadaan yang tenang,maka dalam keadaan tenang itu akan terdapat banyak perkara. Maka (maa nudiaa bi syai’ mitsl ma nudia bilwilayah apa yang diserukan seperti seruan wilayah) itulah yang dimaksud pemerintahan .
Tidak ada yang melebihi seruan politik seperti ini,ini perkara politik,ada di zaman RasululLah sawa,ada pula di zaman Amiril Mukminin as Sebagaian orangpun kalau memdapatkan kesempatan,merekapun mengetahui pun hal seperti ini.Tapi penyelewengan sudah banyak.
Sebagaian dari ilmuan kita pun memiliki pendapat :”pakaian militer haram,pakaian yang berbahaya,membahyakan keadailan” .Hazrat Amiril Mukaminin as tidak adil ?!,Hazrat Sayyidusy Syuhada’ pun tidak adil ?!.Hazrat Imam Hasan as juga tidak adil ?!.RasullulLah sawa juga tidak adil ?!.
Sedemikian rupa mereka mendoktrin kita,dengan penuh intimidasi, mereka mendoktrin sehingga kita pun seolah telah siap untuk mempercayainya.