K alau kita telusuri arti sebuah cinta maka kita akan menemukannya di dalam lubuk hati yang paling dalam. Karena itu cinta tidak cukup dengan kata-kata, slogan dan puisi indah, namun cinta adalah sebuah kondisi hati yang memiliki manifestasi dalam ucapan dan perbuatan. Dengan kata lain cinta memberikan konsekwensi ketaatan. Oleh karena itu Perwujudan sebuah cinta hakiki hanya untuk Allah, Rasul dan Ahlul Baitnya yang akan menghantarkan manusia pada maksudnya demi meraih sebuah kesempurnaan dan kebahagian di dunia dan akhirat.
Berkenaan dengan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah saww. Adalah sebuah aksioma dalam ajaran Islam dan diterima oleh seluruh ulama dalam berbagai madzhabnya. Selain itu ketaatan kepada keduanya adalah merupakan kunci meraih kebahagian dunia dan akhirat.
Adapun berkenaan dengan kecintaan kepada Ahlul Bayt Nabi saw, walaupun juga merupakan bagian dari ajaran Islam, namun banyak kaum muslimin, sekalipun sebagai seorang ulama yang tidak memberikan porsi yang semestinya.
Dalam sebuah ayat al-qur’an disebutkan:
Artinya:
Katakanlah: “ Aku tidak meminta kepada kalian upah apapun atas (jerih payah) dakwahku, kecuali mencintai keluargaku.
Ayat di atas adalah secara jelas mewajibkan kita mencintai Ahlul Bayt Nabi saw dan dianggap sebagai bentuk balas jasa yang telah dilakukan oleh Nabi kita Muhammad saww dalam menyampaikan tugas risalah. Sebagaimana juga banyak hadist Nabi baik dari jalur Syiah ataupun Ahlus Sunnah yang mewajibkan kita mencintai keluarga Rasul dengan keharusan untuk mengikuti mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Safinah, hadist Tsaqolain dan lain sebagainya
Satu hal yang perlu kita renungkan, mengapa Nabi dan Allah SWT mewajibkan kita untuk mencintai mereka?
Jika kita gabungkan dengan konsekwensi cinta yaitu ketaatan, maka akan jelas bagi kita bahwa mereka adalah sumber kebenaran, sebab tidak mungkin Allah dan rasul Nya menyuruh kita untuk taat kepada yang tidak benar atau ada kemungkinan untuk tidak benar. Oleh karena itu hal ini menjelaskan, bahwa yang akan menunjukkan kepada ummat manusia untuk memahami sebuah haqiqat ilahiyah, ushul dan furuuddin yang benar hanya bisa didapat dengan kembali merujuk pada mereka.
Cinta yang terpatri dalam sanubari akan mamiliki peranan ganda dalam membentuk karakter kepribadian seseorang, baik dalam hubungannya dengan makhluk sesama ataupun hubungan dengan Kholiq nya. Oleh karena itu kadar sebuah cinta ditinjau dari segi kurang dan lebihnya bisa dibagi menjadi tiga golongan:
1. Tingkatan cinta yang lemah yang hanya sebatas pendekatan saja, namun dibalik cintanya itu tidak ada sedikitpun pengorbanan terhadap yang dicintainya, tingkatan yang pertama ini mungkin dapat kita kategorikan dengan cinta monyet.
2. Tingkatan cinta yang sedang-sedang saja, dimana dalam tingkatan yang kedua ini disertai dengan sebuah pengorbanan namun sebatas terealisasinya kemamfaatan dan kemaslahatan yang harus diraih untuk dirinya.
3. Tingkatan cinta dimana pencinta terhadap yang dicintai tak mengenal batasan dan syarat apapun, sehingga dari cintanya itu akan melahirkan sebuah kethoatan dan kekhusukan. Tingakatan cinta yang ketiga inilah yang dinamakan dengan cinta yang haqiqi.
Setelah kita memahami betapa signifikannya sebuah cinta, maka hendaknya kita mengarahkan cinta kita kepada cinta yang haqiqi yang salah satu ekstensinya adalah keharusan bagi kita untuk mencintai Az-zahra putri pemimpin dan Nabi umat islam sepanjang masa, Muhammad saww, istri seorang pewaris risalah muhammady dan washy setelahnya, Ali bin Abi tholib dan ibu dua orang pemimpin pemuda surga Al-Hasan dan Al-Husain. Dalam sebuah hadits diriwayatkan sebagai berikut:
Artinya:
Nabi keluar sambil memegang tangan ssyyidah Fathimah, maka beliau bersabda: barang siapa yang mengenalnya maka sungguh dia telah mengenalnya dan barang siapa yang tidak mengenalnya maka dialah Fathimah putri Muhammad dan dia adalah bagianku dan belahan hatiku dan jiwaku yang ada disisiku, barang siapa yang telah menyakitinya maka telah menyakitiku dan barang siapa yang telah menyakitiku maka telah menyakiti Allah.(Awalimul Ulum 11/ 5)
Kecintaan rosul kepada Az-zahra bukan hanya karena putrinya akan tetapi kecintaan padanya juga karena Az-zahra makhluk yang paling dekat pada Allah sawt, penghulu wanita seluruh alam, dan karena terkumpul padanya semua keistimewaan yang seandainya satu dari keistemewan yang dimilikinya disandang oleh salah seorang wanita biasa akan mendapatkan sebuah penghormatan.
Kecintaan pada Az-zahro akan terealisasikan dengan sebuah perwujudan dalam ucapan dan perbuatan, prilaku seorang yang mencintainya akan menjadikan Az-zahro sebagai tolak ukur dalam setiap tingkah laku pada kesehariannya. Az-zahro adalah wanita teladan sepanjang masa, bukan hanya teladan bagi seorang muslimah namun teladan bagi setiap pria dan wanita, baik dalam penghambaanya pada kholiqnya ataupun terhadap sesamanya, semua kehidupannya diwarnai dengan tuntunan ibadah. Bagaimana ketika beliau membawa air kerumah-rumah para faqir dan miskin, pengorbanannya dalam memberikan makanannya kepada yang lebih membutuhkan, kesabaran beliau dalam menanggung semua pekerjaan rumah tangganya sementara kita tahu bahwa beliau adalah anak dan istri seorang pemimpin besar, suatu pekerjaan kasar yang jarang kita temukan dilakukan oleh para istri dan para putri pemimpin baik dulu ataupun sekarang, begitu juga keberanian beliau dalam membela imamah dan wilayah demi tegaknya ajaran islam yang murni dimuka bumi ini, semuanya dilakukannya demi mencari ridho Allah swt semata. Maka pantaslah kalau beliau sebagai salah satu sumber dalam memahami ajaran syariat islam. Sebagaimana beliau memiliki kelayakan untuk menerima sebuah penghargaan yang besar disisi Tuhannya, sebagaimana yang di sebutkan dalam kitab Awalimul ulum juz 3 halaman 5:
Artinya:
Kita (para Imam) adalah hujjah (baca; bukti dan alasan) Allah pada ummat maanusia, sedangkan Fathimah adalah hujjah Allah atas kami.
Karena keagungan pribadinya dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran inilah, imam khomaini berkata: “ Fathimah Az-zahro (sa) adalah seorang wanita yang jika dia seorang pria maka akan menjadi nabi, dan jika seorang pria maka dia akan menduduki kedudukan Rosulullah”.
Syafa’at az-zahro
Sebelum kita melangkah lebih jauh pembahasan ini, marilah kita memahami arti dari “ syafa’at” itu sendiri. Dalam bahasa Arab , Syafa’ (??? ) berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Syafaat yang diambil dari kata “ syafa’a ini,dalam istilah berarti memohonkan ampunan untuk dosa yang telah diperbuat. Syafaat juga berarti permohonan ampun oleh seseorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak mendapatkannya, jadi syafaat nabi saaw dan manusia-manusia suci lainnya untuk sekelompok ummat berarti do’a, permohonan ampun, atau juga permintaan atas sebuah hajat ke hadirat Allah swt untuk ummat yang menerima syafaat, ringkasnya, makna syafaat itu tidak jauh berbeda dengan do’a.
Allah SWT berfirman dalam al-qur’an:
Artinya:
Di hari itu, syafaat tidak akan berguna kecuali bagi orang yang telah diberi izin oleh Allah dan diridhoi perkataanya.
Suatu anugerah yang besar diraih oleh Az-zahro as dari Tuhannya yang tidak akan diraih oleh seseorang kecuali para Anbiya, Aushiya’, orang-orang mukmin dan malaikat sebagaimana yang telah disabdakan oleh nabi saaw yang temaktub dalam kitab Biharul anwar juz 8 halaman 5:
?Artinya:
Yang berhak memberi syafa’at di padang Mahsyar; para Nabi, Washiy, Mukmin (sejati) dan para malaikat.
Fathimah Az-zahro as. laksana matahari yang bersinar kelak dipadang mahsyar, di saat beliau akan melintasi Shirath terdengarlah suara yang mendiamkan semua suara hiruk pikuk saat itu:
Artinya:
Tundukkanlah pandangan kalian sehingga Fathimah putri Muhammad melintas shirath.
Saat kumandang suara itu terdengar tak ada seorangpun dari para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’ yang tidak menundukkan pandangan mereka sebagai penghormatan terhadap putri Nabi saaw.
Tatkala beliau as menghadap Allah SWT, beliaupun turun dari untanya, disaat itupun terdengarlah suara dari Allah swt:
Artinya:
Wahai kekasihku! Mintalah padaku akan aku beri, jika engkau meminta syafaat maka syafaatilah, maka aku bersumpah demi kemuliaanku dan keagunganku aku akan membalas orang-orang yang telah berbuat dholim.
Maka Az-zahro pun memohon:
Wahai Tuhanku dan Tuanku! Keturunanku dan syiahku (pengikut) dan syiah keturunanku, dan pencintaku serta pencinta keturunanku.
Dari sinilah kita bisa mengetahui betapa besar nilai syafaat yang diberikan pada Az-zahro bahkan dikatakan bahwa tingkatan syafaatnya lebih tinggi dari pada yang dianugerahkan pada Rosulullah dan imam Ali as padahal Az-zahro as tidak menyandang predikat nubuwah dan imamah, dan bagaimana Az-zahro sangat mencintai pengikutnya dan akan memberikan syafaat bagi para pencintanya dan pengikutnya, bahkan bukan itu saja namun lebih dari itu semua beliau akan memberi syafaat juga pada mereka yang mencintai keturunannya juga. Oleh karenanya dengan cinta ini kita mengharap syafaat darinya.[]
Daftar pustaka
1. Al-qur’an dan Terjemahannya. Departemen Agama Republik Indonesia.
2. Fathimah Az-Zahro as Minal Mahdi Ilal Lahdi, karya: Sayyid Muhammad Kadhim Al-Qazwainy, berbahasa arab.
3. Jomy az-zalole Kaustar” karya: Ustadz M. Taqi Misbah yazdi, berbahasa farsi.
4. As-Syafa’ah Haqiqoh Islamiyah.
Thursday, February 16, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment