Maaf setelah beberapa lama absent, karena kesibukan…
Ahlan wa sahlan…bang Abdurrahman…saya kira anda kemana koq lama gak muncul. Saya sempat terpikir apakah PC anda jebol lagi ato gimana gitu…eh gak taunya nongol juga…hehehe
Mas Farah, Tuhan anda ada di mana-mana yah? bersama kucing anda di kandangnya, bersama si mayit di kuburnya, menemani sapi ketika sedang merumput. Ini makna "di mana-mana".
Hahaha..ada-ada saja anda ini, suka bergurau juga…santai aja bang…
Ok,waduuuh sayang sekali bang, saya bukan Abu Hurairah yang konon suka melihara kucing, apalagi sebegitu cintanya pada kucing sampai ia menisbahkan julukannya pada kucing. Kalaupun mau melihara kucing, gak akan saya taruh di kandang, saya suruh tinggal di rumah bang Abdurrahman aja, gimana? Biar ada Tuhan di rumah bang Abdurrahman, khan kucing ama Tuhan? Kata anda…hehehehe
Iya, memang Tuhan saya berada dimana-mana. Namun, bukan dengan pengertian hulul atau ittihad yang dimengerti oleh sebagian orang mutsahawwifah (pura-pura atau sok sufi), sehingga anda pun akhirnya dapat mengkritik bahwa sewaktu anda melihat –maaf-maaf- kotoran manusia yang najis pun, maka anda akan katakan bahwa Tuhan –Yang Maha suci- pun ada di kotoran manusia yang najis, naudzubillah min dzalika al-jahl.
Kalau anda tidak meyakini bahwa Tuhan ada dimana-mana, lantas bagaimana anda mengartikan ayat-ayat semisal “wa lilli al-masyriq wa al-maghrib fa ainama tuwalluu fa tsamma wajhullah” (dan bagi Allah belahan bumi bagian timur dan barat, maka kemanapun engkau palingkan (wajahmu) maka disanalah wajah Allah, al-Baqarah: 115), atau “wa kaana allahu bikulli sya’in muhiitha” (dan Allah melingkupi atas segala sesuatu, an-Nisaa’:126). Jika anda seorang wahabi yang tidak meyakini adanya ta’wil dalam teks, maka konsekwensinya –dari ayat 115 surat al-Baqarah tadi- anda akan –atau bahkan harus- mengatakan bahwa “Tuhan ada di kotoran manusia”, itupun cuman wajahnya aja, tidak dengan badan, tangan, kaki…dsb. Namun bagi kita –Syiah yang menerima ta’wil- tidaklah semacam itu. Karena pengertian semacam itu tadi mengakibatkan keyakinan anthrophomorpism dalam ketuhanan, yang berkonsekwensi bahwa Tuhan mirip seperti Abdurrahman Umar, yang punya kaki, tangan, badan, wajah yang ganteng dan rambut yang terkadang nampak mulai beruban…hehehe
Karena pembahasan kita bukan ttg topic ini, maka jika anda ingin membahas banyak ttg hal tersebut, silahkan diskusi/belajar saja sama ustadz-ustadz kita yang dari Iran. Mereka bisa anda temui koq di banyak tempat di Indonesia…
Jika Nabi dikatakan hadir pada mahallul qiyam, itu artinya nabi gentayangan kesana kemari, tapi akan kerepotan ketika ada dua majlis maulud yang sampe pada mahallul qiyam bersama-sama, barangkali yang satu diwakilkan ke siapa gitu untuk hadir ke sana. Siapa yang mengatakan bahwa Nabi hadir saat mahallul qiyam? Ada yang pernah membuktikan? Sepertinya tidak ada. Atau ada yang penasaran mau mencoba? maaf sebelumnya saya melenceng sedikit dari pokok pembahasan.
Saya gak heran kalo anda terkadang melenceng dari pembahasan, karena dah biasa koq ngelihat pemandangan semacam ini…
Kendala banyak orang terkhusus yang awam, karena mereka terbiasa dengan panca indera –terkhusus indera pengelihatan- akhirnya mereka ma’nus (merasa senang) dengan panca indera tadi. Saking senangnya, sampai-sampai mereka selalu menghukumi banyak hal melalui panca indera tadi. Oleh karenanya, muncul semisal materialisme di masyarakat. Sayangnya pemikiran itu juga terkadang mencemari pemikiran akidah sebagian kaum muslimin. Makanya, sewaktu saya waktu ziarah ke makam Rasul dulu –selepas haji- para penjaga makam yang wahabi itu mengatakan “jangan lama2 ziarah, segeralah pergi, jangan memohon, karena Rasul telah mati”. Mereka lupa atau pura2 lupa bahwa memang zahir jasad Rasul telah mati, tapi ‘jiwa’ Rasul masih tetap hidup untuk selamanya “bal ahyaa’ inda rabbihim”, dan masih terus diberi rizki “wa humm yurzaquun”.
Pertanyaan2 anda tentang ‘kehadiran’ nabi tadi, sangat membuktikan bahwa anda pun –sedikit banyak- telah terpolusi dengan masalah tadi. “Hadir” tidak mesti diartikan dengan “hadir jasadi” atau “semacam gentayangan”, sebagaimana yang anda katakan. Namun kehadiran sebagaimana yang disinyalir dalam ayat “fa qul I’maluu fa sayara allahu amalakum wa rasuluhu wa al-mukminun” (Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu ,at-Taubah: 105). Jelas ayat ini menjelaskan semua pekerjaan, mutlak. Maka, walaupun anda melakukan prilaku apapun di kamar sendiri niscaya sebagaimana Allah melihat prilaku anda, Rasul yang zahirnya telah tiada (mati) pun juga turut melihat, begitu pula beberapa individu mukmin tertentu. Mau lebih jelas? Sekali lagi tanyakan ama ustadz-ustadz di Indonesia biar lebih jelas…jadi dari sini jelas bahwa bang Badurrahman gak pernah baca maulud Nabi, jangan-jangan juga gak pernah baca tahlil…trus menurut bang Abdurrahman apa hukum baca maulud dan tahlil, bidah dan haram khan? Jika ya, maka jelaslah sudah siapa bang Abdurrahman…
Jika berdoa pada Allah agar melimpahkan salawat maupun rahmat pada siapa pun juga, tidak berarti harus ada di depannya. Tapi menyapa seseorang dengan kata ganti "kamu", sangat sulit untuk percaya bahwa dia tidak sedang mengajak bicara orang itu. Nabi kita shalawati karena shalawat akan sampai pada Nabi. Apakah akan sampai juga pada para imam ? barangkali mas farah tahu dan tahu juga dalilnya dari buku syiah tentunya.
Jika jawaban ringkas saya di atas tadi sudah mampu anda tangkap, maka dengan sangat mudah anda akan memahami jawaban pertanyaan anda sendiri. berkaitan dengan kata ganti “kamu” yang anda sebutkan, sewaktu anda membaca salam terakhir sewaktu shalat sendiri di kamar, lantas kepada siapa anda mengucapkan salam tersebut jika kata “assalamualaika ayyuha an-nabiyu warahmatullahi wa barakatuhu” dan “assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh”? Lantas buat siapa kata “kalian” tadi jika harus berhadapan dengan obyeknya langsung sementara anda sendiri di kamar? Apakah anda meyakini bahwa Nabi berada di kamar anda yang pengap itu? Apakah Allah memerintahkannya sia-sia? Mungkinkah Allah memerintahkan kita untuk melakukan hal sia-sia? Silahkan jawab sindiri…
Apakah mas farah pernah melihat kitab talbis iblis karangan sibt ibnul jauzi? Mas farah perlu tahu, mas farah salah nukil, karena talbis iblis karangan ibnul jauzi. Ibnul jauzi sunni sementara sibt ibnul jauzi syi'i. dan sibt tidak pernah menulis kitab namanya talbis iblis. Mungkin mas farah bisa lebih teliti lagi dalam menukil.
Ok makasih atas sarannya yang bagus itu. Saya sempat akrab dengan kitab talbis iblis itu ketika meneliti tentang “tasawuf” dalam Islam. Tetapi seingat saya saya gak pernah menyinggung tentang masalah buku itu. Coba lah saya cek lagi…
Masalah tabi'in, anda bisa lihat sendiri di kitab ahlussunnah, apakah seluruh perkataan dan perbuatan mereka jadi hujjah atau tidak.
Sekali lagi, saya hingga sekarang masih meyakini bahwa wahabi (salafi) bukan Ahlussunnah. Dan saya menukil ungkapan tadi dari ungkapan pengikut wahabi. Jadi, jangan kaitkan pernyataan tentang tabi’in tadi dengan Ahlussunnah. Maaf kalo anda tersinggung…
Mas farah, para nabi yang anda sebutkan semua pernah menjalankan fungsi dan tugasnya di dunia, mendakwahkan kebenaran, menemui manusia di pasar, di mana-mana. Tapi imam mahdi sepertinya tidak pernah keluar rumah. Barangkali saya saja yang kurang mencakup seluruh riwayat syiah ttg mahdi.
Jelas, karena antara nubuwah (kenabian) dan imamah (kepempinan) dua konsep yang berbeda dan terdapat dualisme, maka pasti ada sisi perbedaan. Namun bukan berarti tidak ada sisi kesamaan. Apakah menyampaikan kebenaran mesti harus keluar rumah, berjalan-jalan di pasar, keluyuran kesana-kemari? Bukan suatu keharusan bang…
Barangkali mas farah mengenal riwayat yang mengatakan bahwa imam mahdi pernah sholat berjamaah atau memberikan khutbah jum'at seperti imam Ali.
Sekali lagi, jika anda tahu kondisi dan situasi yang dialami oleh imam Mahdi kala itu, tekanan-tekanan yang dilancarkan pihak yang dianggap khalifah Rasul kala itu, niscaya anda akan tahu, kenapa imam Mahdi tidak melakukan banyak aktifitas di luar rumah. Kalau tolok ukurnya ngisi khotbah jum’at, bukan hanya imam Mahdi, banyak imam Syiah yang gak diberi kesempatan sedikitpun untuk melakukan itu. Karena khotbah jum’at di Syiah bukan melulu bahas sorga-neraka doing, kayak banyak masjid di Indonesia…tapi mesti membahas tentang si-kon lingkungan yang ada baik dari sisi ekonomi, politik, social, budaya…dsb. Kalau nggak percaya, anda bisa cek situs Islam Alternatif kolom khotbah, dimana tradisi itu masih dipegang oleh kelompok syi’ah. Makanya, dalam syiah, imam jum’at itu nggak asal comot melainkan harus tahu banyak hal, terkhusus masalah situasi dunia terkini. Hal itu yang ditakutkan oleh ‘khalifah’ kala itu.
Analogi nabi dan imam sangat tidak relevan, karena nabi menerima mukjizat dari Allah, dan kita kenal kisah para nabi itu dari Al Qur'an, nama-nama para nabi dan kisah-kisahnya. Apakah imam seperti nabi? Saya kira tidak.
Jawabannya telah saya singgung. Sebagaimana ada sisi kesamaan, juga ada sisi perbedaan. Oleh karenanya, Rasulullah dalam hadis manzilah -yang juga diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlussunnah- beliau bersabda: “”. Pernyataan dan pertanyaan anda itu akan jelas jika anda banyak baca buku-buku Syiah ttg imamah versi Syiah tentunya yang bisa anda dapati ditoko-toko buku disekitar kota anda tinggal.
Masalah imam mahdi penakut itu bukan sekedar kesimpulan. Tapi yang jelas Mahdi tidak pernah menjalankan fungsinya sebagai imam, wujud dari lutf Allah pada hambanya
Bersembunyi bukan selalu berarti penakut. Rasul bersembunyi di gua Tsur, nabi Musa lari dari Firaun…dst bukan berarti takut. Namun harus anda ketahui, Itu yang harus anda lihat. Kenapa mereka bersembunyi? apa maslahat dibalik sembunyi? siapakah yang menghendaki mereka semua bersembunyi? Apakah sembunyi mesti memiliki makna (akibat) takut, ataukah terkadang bermakna taktik untuk mencapai masalahat yang lebih besar? Jadi fungsi imam akan tetap berlaku walau ia bersembunyi, karena ia bersembunyi secara zahir, namun tetap menyampaikan kebenaran Ilahi dengan cara lain. Penentuan empat orang wakil –yang anda dapat baca pada buku2 Syiah nanti- merupakan strategi beliau dalam menyampaikan kebenaran ajaran Ilahi.
Untuk buku ali kurani, di mana saya bisa mendapatkannya? Saya ingin sekali. Tolong diberitahu judul dan penerbitnya.
Judul: Imam Mahdi, dari proses gerakan hingga era kebangkitan-cet: Misbah-penj:M Amin Beik…rajin2 aja bang ke toko buku, biar tahu perkembangan buku…jangan hanya ngrumpi di mal aje…hehehe
Untuk rujukan firqoh syi'ah dapat dibaca di firoqusyi'ah karangan nubakhti, dan kitab lagi yg saya tulis di email terakhir saya sblm ini.
Terbukti dalam kitab yang anda sebutkan tadi, bahwa kelompok Syiah yang anda jadikan acuhan adalah bukan kelompok Syiah Imamiah itsna Asyariah. Tetapi kelompok Syiah lain yang tidak mengakui keimamam Muhammad bin Hasan al-Mahdi. Anda bisa cek lagi…itu kalau anda punya bukunya. Kalau gak, bisa hubungin beberapa yayasan yang punya buku tersebut. Saya bisa ngasih informasi koq yayasan mana yang punya buku itu, tapi pinjam lho…gak boleh dibawa!?
Mengapa syiah melaknat ja'far al kadzab? Karena dia mengambil harta warisan hasan al askari, karena terbukti dia tidak memiliki anak. Imam siapa yang melaknat ja'far al kadzab? Apakah ja'far bukan ahlulbait? Tolong disertakan riwayat beserta status validitas riwayat itu.
Anda sendiri yang membuka tentang kasus Jakfar al-Kadzab. Cari sendiri apa alasan Syiah…tapi ingat, jangan ngarang lagi lho!? Karena kita –saya dan temen2- bisa cek buku2nya…Tentu anda punya alasan dan tujuan khusus dibalik keingintahuan anda ttg Jakfar al-kadhzab? Ttg definisi Ahlul-Bait dan penentuan individu2nya, selain juga sudah kita bahas di milis ini, anda pun bisa cek di buku2 karya ulama Syiah yang telah banyak diterjemahkan dan beredar di seluruh Indonesia raya…
Aneh anda ini, sama ulama Ahlussunnah gak percaya…jangan-jangan anda bukan Ahlussunnah….hehehe Bukankah sudah saya sebutkan dalam tulisan sebelum ini, bahwa sebagian ulama Ahlussunnah sendiri menukil akan kelahiran anak imam Hasan al-Askari as.
Saya setuju dengan usulan farah untuk membahas konsep imamah secara umum baru kemudian membahas masalah imam mahdi.
Setuju tok, akeh tunggale mas…silahkan anda lontarkan dahulu apa yang anda pahami tentang konsep imamah menurut akidah anda!? Karena semua kelompok dalam Islam meyakini konsep imamah, khilafah, imarah, hakim atau apa aja dech sebutannya…
Al Muhib AtTobari ulama sunni? Bagaimana seorang syi'I mengangap ulama syiah sbg sunni? Mau tau bedanya ? Sunni, Muhamamd bin jarir bin yazid bin katsir, sementara yang syi'I adalah Muhammad bin Jarir bin Rustum, seperti dikatakan aghabarzak tohroni dalam azari'ah ila tashanifisyi'ah jilid 3 hal 117.
Pertama, di Indonesia gak ada yang punya kitab agha Buzurg tehrani, buzurg berarti besar (bhs persia) bukan barzag –anda sendiri gak tahu betul nama penulisnya, apalagi penulisan namanya, apalagi kitab model kitabnya, apalagi membacanya- jadi saya yakin anda hanya menukil-nukil aja, asal nukil. Kalau memang and abaca langsung, coba cetakan mana serta tahunnya? Akan saya cek nantinya. Kedua, tentang pribadi Muhib at-Thabari, namanya al-Hafidh Abi Jakfar Ahmad bin Abdullah yang terkenal dengan sebutan al-Muhib at-Thabari. Beliau adalah pemiliki kitab Dzakha’ir al-Uqba. Adapun yang jadi rujukan saya adalah kitab yang dicetak di Mesir oleh percetakan maktabah hisamuddin a-Qudsi pada tahun 1356…silahkan cek!? Saya gak pernah menyinggung tentang masalah Muhammad bin Jarir at-Thabari, baik yang sunni maupun yang syi’i. sekali lagi yang saya singgung adalah “al-muhib at-thabari”. Muhib thabari bukan ibnu jarir thabari bang…insyaAllah anda gak salah paham lagi…
Dalil bahwa mahdi adalah keturunan hasan adalah hadits di bawah ini, yg sudah saya nukil di email saya terakhir. Tidak ada salahnya saya nukil lagi.
Bahkan yang mengatakan adalah imam anda sendiri yang maksum.
Abu Dawud meriwayatkan dari Ali bahwa dia melihat anaknya Hasan, lalu berkata "anakku yang satu ini adalah sayyid,sperti disebut oleh Rasulullah dan akan keluar dari anak cucunya seorang laki-laki yang namanya sama seperti nama nabi kalian, seperti nabi kalian akhlaqnya tapi tidak seperti nabi kalian badannya, akan memenuhi bumi dengan keadilan.
Anda bisa menyebutkan lebih lengkap tentang keberadaan hadis tersebut pada kitab sunan Abu dawud? Paling tidak halamannya saja. InsyaAllah akan saya cek lagi…jangan cuman artinya aja, tolong anda biasakan itu…sehingga kita bisa cek, apakah benar bahwa hadis semacam itu memang benar-benar ada, atau memang benar diada-adakan?
Ok lah tidak menyebut nama ayahnya, tapi khan disebut bahwa dia adalah dari anak cucu hasan.
Tapi ternyata farah yang katanya mengenal kitab ahlussunnah lebih dari ahlussunnah sendiri tidak tahu hadits di bawah ini,
Tentang anak cucu Hasan sudah saya singgung dari kitab Dzakhair al-Uqbah, mau lagi? Coba anda lihat dalam kitab Fara’id as-Simthain karya Imam Ibrahim bin Muhammad bin al-Muayyad bin Abdullah bin Ali bin Muhammad al-Juwaini al-Khurasani Jil:2 Hal:325 cet muassassah al-Mahmud li at-Thaba’ah wa an-Nasr Beirut-Lebanon Thn:1400 H/ 1980 M.
Tentang ngaku lebih pinter dari orang Sunni sendiri…Wah bang Abdurrahman mulai pinter ngarang neh…siapa yang ngomong kalau saya lebih mengenal kitab Ahlussunnah lebih dari orang Ahlussunnah. Ya boleh jadi saya bisa akui semacam itu, tapi sebagian orang Ahlussunnah, bukan semua orang Ahlussunnah. Contoh yang jelas, saya lebih tahu kitab-kitab Ahlussunnah dibanding tetangga saya yang sopir taxi, sedang dia orang Ahlussunnah…hehehe
Kalau kesimpulan anda itu dihasilkan karena melihat reaksi saya terhadap aksi oknum yang tidak bertanggungjawab itu, yang pernah mengotori milist ini, ya, saya berani sombong sama dia, tetapi khusus untuk dia. Sombong sama orang sombong itu diperbolehkan bang…malah terkadang ‘wajib’ koq, biar dia sembuh dari kesombongannya. Lagian, milist ini bukan untuk orang2 kampungan macam dia. Jadi caranya itu yang harus dirobah, atau kalau gak, dianya yang harus dibuang di tong sampah. Gak tahu, anda kenal gak orang itu?
Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad, dari Abdullah bin Mas'ud: jika tidak tersisa dari dunia ini selain satu hari maka Allah akan memanjangkan hari itu hingga mengutus seseorang lelaki dari ahlulbaitku, namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku, memenuhi bumi dengan keadilan, seperti telah tersebarnya kezaliman di muka bumi.
Apakah anda telah menukil hadis tadi dengan lengkap? Karena sebatas yang saya tahu, tentang penyebutan nama ayahnya tidak pernah dengan jelas disampaikan oleh Rasul. Jadi harap dinukil dengan lengkap, termasuk pernyataan sahabat Rasul yang meriwayatkannya. Ingat, tolong sebutin rujukannya secara lengkap…
Anda lebih tahu tentang kitab ahlussunah, tapi mengapa hadits ini lewat dari pengetahuan anda? anda sebetulnya tidak tahu dan pura-pura tahu, atau tahu tapi sengaja tidak menukil. Silahkan pilih yang mana.
Mulai ngarang lagi…mulai kapan anda suka ngarang2?
Kalaulah saya tahu bukan berarti saya hapal, makanya jangan cuman nyebutin pengarangnya dong…sebutin yang lengkap donk, minimal nama kitabnya, di jilid berapa dan halaman berapa? Sukur2 dengan menyebut cetakan dan tahunnya.
Anda pasti tidak tahu bahwa ada kitab syiah yang meriwayatkan riwayat bahwa nama mahdi adalah seperti nama nabi, nama ayahnya adalah seperti nama ayah nabi. Saya yakin farah tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Tapi lebih baik husnuzon saja farah tidak tahu. Silahkan lihat di amali thusi hal 326, ghoibah karangan thusi hal 112, kasyful ghummah jilid 3 hal 235, 271 277. Biharul Anwar jilid 28 hal 36 jilid 37 hal 2 dan beberapa halaman lagi di biharul anwar.
Saya sudah cek beberapa hal yang anda sebutin. Alhamdulillah, yayasan Syiah deket rumah saya perpustakaannya cukup lengkap untuk ukuran Indonesia.
Sedang disisi lain, dikarenakan kesibukan saya, maka saya hanya mampu mengecek beberapa hal saja. Adapun hasil cek & recek saya adalah :
Dalam Bihar al-Anwar dengan cirri-ciri yang anda -sebutkan Jil28 hal:36- tidak saya temukan pembahasan yang anda sebutkan. Padahal saya sudah mengecek dua cetakan dari bihar, baik yang dicetak dalam 110 Jilid maupun yang dicetak menjadi 40 jilid oleh Daar at-Ta’aruf Beirut-Lebanon cetakan pertama Thn:1421 H. malah disitu tercantum Kitab al-Fitan wa al-Mihan, pembahasan berkaitan dengan beberapa sahabat yang menyimpang dari khat Rasul. Dalam kitab yang dicetak 110 jilid, malah hal 26 adalah lembaran pergantian bab sehingga hal itu kosong, gak ada hadisnya sama sekali. Ttg kitab Amali karya Syekh Thusi pun sudah saya cek. Dalam kitab tersebut yang dicetak oleh maktab ad-Dawari Qom-Iran tanpa tahun pada halaman yang anda sebutkan malah membahas tentang keutamaan tanah makam imam Husein. Jadi dua ini saja cukup buat saya untuk membuktikan bahwa anda mungkin gak melihat langsung kitab2 yang anda sebutkan tadi…atau bahkan hanya sekedar menukil dari kitab2 anti Syiah saja. Jika benar bahwa anda melihat langsung kitab2 tadi, maka tolong beritahukan nama pencetak dan urutan cetak, dan tahun cetak…terimakasih
Akhirnya anda pun tahu bahwa saya mendapat informasi itu dari hadits Nabi. Bahkan dari "saku" kitab syiah sendiri .
Mendapat informasi langsung dari kitab Syiah, atau menukil dari kitab anti Syiah? Saya berharap anda tahu letak perbedaan dua jenis pertanyaan di atas? Kenapa seperti itu? Karena kitab-kitab semisal adz-Dzari’ah karya ogho buzurg ataupun bihar al-anwar karya al-Majlisi yang 110 jilid itu tidak ditemui ditempat manapun di Indonesia kecuali beberapa yayasan Syiah yang besar saja. Maaf, saya gak yakin anda mampu beli kitab-kitab besar semacam itu.
Jika anda masih menganggap riwayat itu berasal dari saku orang maka itu terserah anda.
Perlu dicek bang…boleh jadi betul ada, karena pengalaman saya pribadi, sewaktu dulu –sebelun saya Syiah- saya membaca karya-karya Ihsan Ilahi Dzahir yang menghantam Syiah habis-habisan, setelah dicek ternyata memang betul ada, namun dipotong dalam menukilnya sehingga nampak kejanggalannya. Persis seperti prilaku orang anti Islam yang ingin membuktikan bahwa Islam adalah agama ateis dengan menukil asas agama Islam adalah “laa ilaaha” sedang “illallah”nya diilangin.
Hubungan alawiyin dengan penguasa saat itu? Anda saja yg melihat ke kitab-kitab anda sendiri, jika hubungannya tidak baik, apakah ada riwayat dari kitab anda sendiri yang sohih?
Terlampau banyak dari kalangan Syiah baik yang berupa riwayat maupun dirayat yang menjelaskan kemazluman para alawi kala itu. Namun bagaimana mungkin saya akan beragumen dengan kitab-kitab Syiah kepada anda yang bukan Syiah, itu namanya gak bijak. Persis seperti berargumen dengan orang konghucu dengan dalil ayat-ayat al-Qur’an dalam berdiskusi. Toch rujukan dari kitab Ahlussunah sendiri kan sudah sempat saya singgung kala itu…coba anda lihat kembali tulisan saya yang dulu…
Mestinya farah langsung menyebutkan status riwayat itu menurut ulama syiah, tidak memberikan jawaban mengambang. Ini adalah jawaban seragam dari syiah di mana pun di muka bumi. Jika farah tidak menemukan ulama syiah yang menghukumi status riwayat itu lebih baik bilang saja terus terang, tidak usah puter-puter gitu. Masak tidak ada ulama syiah yang mengomentari hadits al kafi yang satu ini?
Lihat tuch…ngarang lagi khan?…mulai suka ngarang anda ini bang…
Kapan anda berkeliling bumi untuk menanyakannya kepada setiap pengikut Syiah? Selain itu, pertanyaan anda itu bukti akan ketidakpahaman anda akan omongan saya. Gini gampangnya bang…mudah-mudahan usaha saya ini gak sia-sia lagi dikarenakan ketidakpahaman.
1- Tentang penentuan shahih tidaknya suatu hadis adalah pekerjaan mujtahid.
2- Mujtahid tentu tidak asal bunyi (asbun) tentang shahih dan tidaknya hadis, mesti punya dasar-dasar sebagai landasannya. Kurang lebih persis seperti dasar ushul fikih yang diperlukan seorang mujtahid untuk mengeluarkan hukum (fatwa) fikih.
3- Dikarenakan beberapa dasar yang sebagai landasan seorang mujtahid berbeda dengan yang lain, maka bangunan yang bertumpu di atas kerangka tadi berbeda pula.
4- Dan yang paling perlu dicatat, meningat umat Syiah di Indonesia berusia sangat muda, maka belum ada yang sudah sampai pada derajat ijtihad.
Konklusinya, tentang penentuan shahih gaknya suatu hadis, antara ulama terkadang berbeda. Dan dikarenakan di Indonesia belum ada mujtahid, jadi kita belum punya otoritas untuk menentukan itu. Kalau anda tertarik untuk itu, yach…pergi aja ke Iran, Iraq atau Lebanon…di sana banyak mujtahid.
Sekedar informasi aja, ada buku yang berjudul “difa’ an al-Kafi” yang dikarang oleh seorang ulama Syiah. Tentu belum dan tidak diterjemahkan, mungkin dengan alasan selain ketebalan kitab, juga itu hasil ijtihad dia yang telah sampai pada derajat mujtahid, yang boleh jadi berbeda hasilnya dengan mujtahid lain.
Dikarenakan hanya mujtahid saja yang punya otoritas semacam itu, jadi orang -yang sangat awam- semacam saya gak bisa nentuin mana hadis yang shahih dan mana yang gak? Kalau pingin tahu siapa yang mampu…gak usah keliling dunia, datang aja ke Qom saya yakin banyak mujtahid yang membimbing anda untuk itu. Tentu, untuk sampai derajat itu, perlu waktu lama…Dan terbukti, ada dan dicetak beberapa kitab yang mengumpulkan hadis-hadis yang dianggap shahih oleh seorang mujtahid, walaupun belum tentu sebagian dari hadis tersebut dianggap shahih oleh mujtahid lain. Boleh jadi hadis hasil tadlis. Tahu khan artinya tadlis dalam hadis? Gak tahu? Tanya temen geh…
Ini repotnya orang selain Syiah yang sebagian dari mereka pintu ijtihad sudah ditutup rapat-rapat, dan sebagian kelompok lagi terbuka sangat lebar, buat orang awam sekalipun. Dua-duanya tadi telah keluar dari garis normal. Sedang Syiah, sedang-seadang saja…paham bang? Kalo tetep gak paham, harus tes IQ lagi dech…heheheh maaf gurau, biar gak tegang. ok? Gitu aja kok repot…kata gus Dur
Kemana muhammad bin hasan al askari yang dinukil oleh ulama ahlussunnah, mengapa tidak ada kabarnya? Karena ulama ahlussunnah sendiri tidak mendapati kabar apa-apa tentang mahdi itu, lalu yang mau ditulis apanya? Wong orangnya saja tidak pernah kelihatan dan dirahasiakan keberadaannya. Jika ditulis tidak jadi rahasia donk.
Pastinya, entah kenapa sebagian ulama Ahlussunnah tidak menukilnya hingga terakhir? Terlalu banyak kemungkinan yang bisa kita perkirakan…salah satu dari kemungkinan yang ada adalah yang bang Abdurrahman sebutkan tadi. Tentu, dengan sedikit analisa yang disesuaikan dengan kondisi zaman kala itu.
Saking rahasianya, ulama syiah ada yang meriwayatkan bahwa siapa saja yang menyebut nama mahdi maka dia telah kafir. Betapa mudahnya vonis kafir bagi sebagian orang, wahabi aja tidak mengkafirkan orang gara-gara menyebut nama atau membongkar rahasia. Benar-benar lebih sangar dari wahabi.
Kafir? Yang saya tahu, ada beberapa hadis yang menyatakan bahwa “Barangsiapa yang menyatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan imam Mahdi, maka bisa dipastikan bahwa ia adalah pembohong”. Dan ingat, hadis ini sifatnya kondisional saja karena hanya berlaku pada zaman ghaib sughra beliau, gak bersifat mutlak. Karena pada zaman ghaib sughra hanya empat wakil itu saja yang bisa bertemu dengan beliau…
Kalau tentang wahabi, waduuuh…saya punya kenangan banyak tentang dan bersama mereka. Memang wahabi gak suka mengkafirkan. Yang mereka kafirkan cumin Syiah aja. Tetapi, ada satu hoby yang dimiliki pengikut wahabi yang saya anggap sangat gak lucu, suka menganggap orang pelaku Syirik, bid’ah dan Khurafat. Bener gak bang Abdurrahman? Siapa yang pernah melakukan haji akan lebih mengetahui itu. Atau buat yang aktif di organisasi, anda bisa lihat sebagian ORMAS Islam juga mulai ikut2an punya hoby semacam wahabi tadi, ataui sudah terpolusi dengan pemikiran wahabi…lihat aja disekitar kampong anda, pasti akan anda dapati mereka itu. Beduk bid’ah, tahlil bid’ah, ziarah kubur syirik, membangun kuburan syirik, meyakini adanya wali dibilang khurafat…dsb. Tapi ingat, orang wahabi tidak pernah mau mengaku dirinya wahabi, cumn ngakunya ingikuti ajaran salaf saleh…yang gak jelas tolok ukur kesalafannya, apalagi kesalihannya.
Pemegang urusan ini tidak ada orang yg menyebut namanya kecuali kafir, riwayat dari Imam Ashodiq wasa'ilusyi'ah jilid 12 hal 486. juga di halaman yang sama ada tambahan karena kalian tidak melihat orangnya maka tidak halal bagi kalian menyebut namanya. Bagaimana kita menyebutnya? Katakanlah Al Hujjah dari keluarga Muhammad. Di halaman yg sama juga ada riwayat dari Hasan Al Umari bahwa dia berkata : telah keluar tulisan dengan tulisan yang aku ketahui tertulis : barangsiapa menyebut namaku di tengah orang banyak maka dia akan dilaknat Allah. Juga di al kafi jilid 1 hal 333 hadits no 4, kitab al imamah wa tabsiroh, Ibnu babawaih al qummi hal 117.
Aduh sudahlah…jangan pakai rujukan kitab Syiah dech kalau anda gak lihat langsung kitabnya. Selain gak ilmiah (sekedar nukil), juga bisa masuk kategori pengkhianatan intelektual…gak percaya? Tanyakan dech sama yang pernah makan bangku kuliah, boleh gak kayak gitu dalam tulisan ilmiah?
Setelah saya cek, dalam kitab wasa’il as-Syiah yang dicetak dalam 15 jilid oleh Daar Ihya’ at-Turats al-Arabi Beirut-Lebanon pada Jil:12 Hal: 486 adalah masuk pembahasan jual-beli (kitab at-Tijarah) Bab:karahah al-Istihthath ba’da as-Shofaqoh. Sedang yang dicetak dalam 30 jilid oleh Muassasah Aali al-Bait Li ihyaa’ at-Turats Beirut-Lebanon pada jilid dan halaman yang anda sebutkan tadi ada pada kitab haji Bab:mam ightasala lil ihram wa shalla lahu wa nawahu. Dimana semua itu gak ada yang menyinggung tentang yang anda sebutkan.
Apalagi kitab al-Kafi yang anda sebutkan, yang saya pribadi punya kitab tersebut. Dalam kitab al-Kafi Jil:1 Hal:333 Hadis ke-4 (sebagaimana yang anda nyatakan) dimana dalam kitab saya –yang dicetak oleh Daar al-Adhwaa’ Beirut-Lebanon cetakan tahun 1413H/1992M- pada Kitab: al-Fitan wa al-Mihan Bab:arruh al-lati yusadidullah biha al-aimmah, saya akan disebutkan matan hadisnya:
“an Abi basher, qoola: sami’tu Aba Abdillah yaquulu: “yas’alunaka ani ar-ruuh, qul ar-ruuhu min amri rabbi” qoola: kholaqo a’dham min Jibril wa mikail, lam yakun ma’a ahad min man madha ghairo Muhammad wa huwa ma’a al-aimmah ysadiduhum wa laisa kullu maa thalaba wujida”. Gak perlu saya terjemahkan khan? Jelas sekali bahwa hadis ini gak membahas tentang apa yang anda dakwahkan tadi. Padahal bab sebelumnya membahas ttg dzikru al-arwah allati fi al-aimah, dan setelahnya bab laa ya’lam al-imam jamii’ ilmu al-imam alladzi kaana qablahu. Saya sudahj cek semua hadis2nya, akan tetapi hadis yang menunjukkan makna yang anda sebutkan tadi sama sekali gak ada…mohon buku wasa’il Syiah dan al-Kafi mana yang anda jadikan rujukan? Yang pernah dinukil pengarang buku anti Syiah kali ya?
Apakah khilafah dalam ahlussunnah ditunjuk oleh nas? Makanya tidak perlu nas dari al qur'an tentang Abubakar, Umar dan Usman. Sebaliknya bagi syi'ah memerlukan nas bagi khalifah atau imam.
Saya gak bahas, apakah khalifah Ahlussunnah harus dengan nash…coba dech lihat lagi tulisan saya yang dulu itu!? Saya cumun bertanya sama anda, mana konsekwensi ungkapan anda yang mengatakan bahwa khalifah harus terpilih dengan pilihan ahlul halli wal aqdi? Ternyata dalam sejarah terbukti ahlul halli wal aqdi pada pemilihan Abu Bakar dan Usman berbeda dari sisi kualitas, kuantitas dan tata caranya? Sedang pada pemilihan Umar sama sekali gak pakai ahlul halli wal aqdi. Sedang pada pemilihan Ali as caranya lain lagi…itu yang saya tanyakan kepada anda, yang sampai detik ini saya masih tetep nunggu jawaban anda….tolong jangan lari kepembahasan lain, jawab dulu pertanggungjawaban statemen anda dulu itu lho…
Farah menganalogikan khalifah yang dibaiat dan imam mahdi yang dibaiat. Khalifah orangnya ada di istana memimpin ummat dan mengurusi urusan politik dan ekonomi, yang jelas orangnya bisa dilihat. Gubernurnya bisa dipegang omongannya, karena memang benar ada khalifah itu. Apalagi jaman sekarang yang sudah ada TV dan sebagainya. Dalam hadits Bukhori ada hadits hudzaifah yang menanyakan pada Nabi bagaimana jika tidak ada jamaah dan imam? Tinggalkan firqoh-firqoh itu (disebutkan sebelumnya mereka adalah pemanggil di depan pintu neraka).
Khalifah ada di Istana? Kenapa gak disebut raja aja? Katanya Khalifah itu adalah khalifah Rasul, lantas kenapa tinggal di Istana? Apakah Rasul pernah mengajari para khalifahnya untuk tinggal di Istana? Jika pemimpin umat harus tinggal di Istana, maka Nabi lebih utama untuk melakukan itu. Namun, beliau justru mengajari umatnya –tanpa terkecuali- untuk hidup secara sederhana. Juga terbukti bahwa hanya Usman bin Affan –dari empat khalifah pasca Rasul- yang hidup di Istana.
Imam ada adalah yang dapat memerintah dan menjalankan pemerintahan negara, bukan yang tidak pernah sholat berjamaah dan khotbah jum'at. Apakah farah dan syiah yang disini mengenal imam zamannya? Atau sekedar tahu namanya saja? Mengenal nabi dan tahu namanya saja tanpa mengikutinya masih jauh dari cukup. Bagaimana kita mengikuti imamuzaman versi farah? Jika tidak bisa diakses perintah dan larangannya lalu apa gunanya imam? Khalifah dalam ahlussunnah dapat dilihat orangnya dan diakses perintah-perintahnya.
Wajar anda bertanya semacam itu, karena anda punya kendala dalam menetukan imam Zaman anda.
Buat kaum Syiah –ingat, yang saya maksud adalah imamiah istna asyariyah- mengikuti imam Zaman dengan mengikuti para mujtahid yang memenuhi syarat untuk diikuti (mujtahid jami’ li as-Syara’it / marja’). Itu karena perintah imam Mahdi sendiri kepada Syiahnya. Dalam nukilan hadis tersebut beliau berkata: “…amma al-hawadits al-waqi’ah fa irji’uu ila ruwati haditsina fa innahum hujjati alaikum wa ana hujjatullah…” (adapun berkaitan dengan fenomena2 yang terjadi, maka merujuklah (ikutilah) kalian pada perawi2 hadis kami (Ahlul-Bait) karena mereka adalah argumenku atas kalian, sedang aku adalah argument Allah…). Itu menurut kita, jelas khan tugas umat Syiah imamiah?
Siapa yang bilang baiat harus jabat tangan langsung dengan khalifah ? kasihan khalifahnya dong tangannya nanti kaku harus salaman dengan jutaan orang.
Saat itu, saya cuman ngingatkan kepada anda aja, bahwa jangan diartikan bahwa berbaiat berarti harus bertemu langsung face to face. Ruh baiat adalah taat dan mengikuti. Buat apa berbaiat secara formal –seperti yang dilakukan beberapa kelompok gerakan Islam di Indonesia- tapi gak taat. Itulah ruh baiat.
Jabatan khalifah dalam ahlussunnah dapat berupa penunjukan dari khalifah sebelumnya seperti kasus umar dan berupa syura seperti abubakar. Tapi dalam kasus penunjukan itu yang terpenting adalah keridhoan kaum muslimin atas diri orang yang ditunjuk itu.
Lho katanya ditentukan oleh ahlul halli wal aqdi, koq sekarang dirubah dengan ‘keridhoan umat’. Keridhoan kaum muslimin? Apa tolok ukurnya? kaum muslimin yang mana? Semuanya? Berapa persen? Siapa bilang kekhalifahan Abu Bakar diridhoi segenap kaum muslimin? begitu juga kekhalifahan Umar, Usman dan Ali? Mau bukti? Kisah terbunuhnya Usman. Kisah peperangan imam Ali as dengan kaum Khawarij, Aisyah dan Muawiyah. Kisah pemaksaan baiat terhadap Abu Bakar oleh Umar…pemaksaan? Saya juga gak habis pikir, ini kekhalifahan Rasulullah ataukah praktek premanisme yang suka main paksa? Jika anda masih menyatakan bahwa keridhoan umat sebagai tolok ukurnya, sedang disisi lain anda mengakui khalifah empat yang ada, seharusnya dengan fenomena yang ada dalam sejarah anda dituntut untuk tidak mengakui kekhilafahan Usman dan Ali karena pada saat itu umat penuh konflik…
Kata khalifah sama dengan imam, itu memang benar, tapi khalifah dan imam disini adalah jabatan politik, yang orangnya ada dan dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.apakah imam mahdi disebut imam atau khalifah? Dalam ahlussunnah, seseorang disebut khalifah dan imam yang wajib ditaati selama tidak memerintahkan maksiat jiak memangku jabatan politik. Imam tidak sealmanya berarti khalifah, karena ulama mazhab misalnya juga disebut imam, seperti imam syafii dll.
Itulah bang…kalau gitu, jika memang itu yang menjadi kesepakatan kelompok2 selain Syiah, maka dengan sangat terpaksa saya katakan bahwa mereka adalah pencetus sekularisme dalam Islam. Bagaimana tidak? Mereka telah memisahkan antara jabatan politik dan jabatan agama. Persis sebagaimana ungkapan sebagian pengikut masehi yang mengatakan “Berikan kerajaan langit untuk penguasa langit, dan berikan kerajaan bumi untuk penguasa bumi”. Apakah Rasul dulu mencontohkan hal demikian? Silahkan cek lagi pada pemerintahan Rasul di Madinah, dan wakil2 Rasul untuk beberapa kawasan lainnya. Aneh…mereka yang mempelopori pemikiran sekularisme dalam Islam versi mereka, namun setelah muncul liberalisme dalam Islam yang sekularisme adalah salah satu selogannya…eh malah sekarang mereka yang kayak kebakaran jenggot. Bukankah mereka yang memisahkan antara kekuasaan duniawi (Politik, social, budaya…dst) dan kekuasaan maknawi (berfatwa hukum fikih, menjadi qadhi…dst)? Dalam Syiah jelas, selain mereka menolak konsep sekularisme, dalam prakteknyapun mereka tidak memisahkan fungsi imam sebagai pemimpin duniawi dan maknawi, sebagaimana Rasul di Madinah dulu.
Mengenai 12 imam itu siapa mereka? Dalam riwayat itu tidak ada penjelasan. Hadits ini adalah penjelasan tentang akan adanya 12 khalifah, dari quraisy. Quraisy bukan hanya bani hasyim tapi juga bani abbas dan bani umayyah. Siapa mereka? Jika syiah imamiyah dapat mendatangkan sanad sohih dari kitab mereka sendiri maka itu hanya berlaku bagi mereka. Jika berlaku bagi syiah sendiri tidak perlu terbukti sohih, karena terbukti melacak kesohihan hadits merupakan pekerjaan yang "tidak gampang". Jadi asal ada riwayat dari imam ahlulbait tidak perlu melihat rowinya. Inilah praktek syiah selama ini.
Justrus inilah sebagai kunci kebingungan anda dan orang2 semisal anda dalam menentukan siapakah 12 khalifah tersebut. Kalau dari Quraisy, berarti mencakup semua khalifah bani Abbas dan bani Umayyah, plus 4 khalifah pertama yang akhirnya jumlahnya puluhan. Mau disutir sehingga menjadi jumlah 12, gak punya tolok ukur yang jelas, plus gak punya keberanian dan mental yang tangguh…akhirnya, ya bingung…silahkan saja menikmati kebingungan anda!?
Jika anda meyakini bahwa khalifah/imam haruslah orang terbaik dari kaum muslimin, maka anda akan dapati bahwa dari sekian banyak suku yang pernah ada di jazirah Arab yang terbaik adalah suku Quraisy, dan dari sekian banyak keturunan yang ada di Quraisy yang terbaik adalah Bani Hasyim. Oleh karenanya, dalam sebuah riwayat Rasul menyatakan: “…aku adalah yang terbaik dari Bani Hasyim”.
Jelas, anda tahu konsep Islam tentang pentingnya mengikuti mujtahid bagi orang awam. Orang awam Sunni mengikuti imam Syafi’I, Hambali…dsb. orang seperti wahabi sekalipun walau mungkin secara lisan mereka gak meyakini konsep taqlid, tapi segala ucapan Ibnu Taimiyah akan mereka benarkan, sebagai bukti bahwa mereka juga mengakui taqlid….lihat, hingga sekarang tumpukan majmu’ah fatawa Ibnu Taimiyah hingga saat ini juga dijadikan rujukan olehj mereka.
Mengenai apakah imam hasan jadi khalifah atau tidak itu bukanlah masalah. OK lah kita anggap aja dia bukan khalifah, berarti yang jadi khalifah dari 12 imam yang diakui oleh syiah adalah hanya Ali saja. Lalu 10 imam lainnya tidak pernah dibaiat jadi khalifah dan memegang tampuk pemerintahan. Jika kita katakan imam 12 itu dari bani hasyim maka bani hasyim bukan Cuma anak cucu husein, anak cucu hasan juga, bani abbas juga. Nah, jika khilafah dari quraisy maka itu mencakup bani umayyah juga. Nah, apakah hadits itu mengandung hukum bahwa khilafah bani umayyah adalah illegal? Silahkan cek lagi matan hadits2nya lalu katakan mana yang menggugurkan legalitas 4 khulafa'urrasyidin dan bani umayyah.
Menurut anda bukan masalah, tetapi menurut Syiah sangat bermasalah…mengingat masalah imamah adalah salah satu asas akidah Syiah. Jadi jangan pakai kata “kita”, pakai kata “saya”!? Sekali lagi saya tanyakan kepada anda yang tentunya gak pernah anda, saya gak tahu anda lupa atau pura2 lupa…jika kekhilafan bani umayyah anda terima plus 4 khalifah Rasul sebelumnya, juga para khalifah bani abbbas, lantas berapa jumlah mereka semua? Lebih dari 12 bukan? Untuk menyesuaikan dengan hadis 12 khalifah tadi, anda harus menyutir lagi dari sekian banyak khalifah tadi. Dengan tolok ukur apa anda menerima dan menolak sebagian para khalifah tadi? Itu kalau memang benar mereka adalah para khalifah pengganti Rasul, cuman jangan paksa saya untuk mengatakan mereka pengganti Rasul, Rasul sacral sedang raja secara umum gak sacral. Karena saya yakin, mereka adalah raja biasa yang hidup di istana yang kebetulan KTP mereka Islam.
Yang jelas sekali lagi, bukan 12 imam syiah. Lalu siapa? Nabi tidak menjelaskan.
Hm lucu sekali…apanya yang jelas, darimana anda mengatakan jelas, sedang anda sendiri masih bingung mau ikut yang mana? Siapa saja 12 orang itu? Tentukan saja –gak usah malu-malu- bahwa saya ikut pendapat Ibnu Taimiyah -yang konon disebut syeikhul Islam itu-, baru anda dapat pastikan bahwa 12 orang itu adalah bukan imam-imam Syiah. Saran saya, baca buku karya Sulaiman al-Qonduzi al-Hanafi yang berjudul “Yanabi’ al-Mawaddah”, “fara’id as-Simthain” karya imam Juwaini atau karya al-Muttaqi al-Hindi yang berjudul “Kazul Ummal”. Tapi yang pertama atau kedua aja dech yang cuman satu atau dua jilid, jadi anda bisa dapati dengan mudah. Itu kalau anda mau baca kitab karya ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i…cari ttg siapa 12 orang itu sesuai dengan sabda Rasul.
Mengenai kalimat di dunia tidak ada fathul bari lain selain 13 jilid, itu keprucut dan saya tarik. Tapi perasaan g ada sampe jilid 16. tolong fathulbari punya farah cetakan mana jadi bisa dilacak.
Keprucut, kepecut, kebacut ataupun kepincut gak jadi masalah bang…emang manusia tempatnya alpa dan lupa…yang jelas walau fathul-bari -taruhlah- nanti dicetak menjadi 19 atau 5 jilid sekalipun anda khan bisa cek daftar isinya, baru bisa dihukumi. Gak usah terlalu diributkan dengan cetakan buku, yang penting isinya, ya gak?
Silahkan anda cek pada kitab fathul-bari cetakan Musthafa al-baabi al-Halabi wa awladihi-Mesir dicetak tahun:1357
Mengenai kekhilafahan muawiyah dan yazid, imam hasan saja mengakui kok kita tidak mau ikut mengakui.
Imam Hasan as mengakui? Jangan ngarang lagi ah…saya bisa sebutin bahwa Rasulullah saw -yang sebagai penghulu para nabi dan rasul, para malaikat -hatta jibril as- pada tunduk pada beliau- telah mencela Muawiyah dan melaknat Yazid. Tentu imam Hasan as akan mengikuti jejak kakek beliau yang mulia. Mau bukti? Contoh aja ya, gak usah banyak2 nanti anda muntah kalau kebanyakan …hehehe. Silahkan buka:
- Hadis pernyataan Rasul tentang Muawiyah; dalam Tarikh at-Thabari 10/58 tentang kejadian tahun 284 disebutkan bahwa sewaktu Rasulullah saw melihat Abu Sofyan menuntun keledai, sedang Muawiyah duduk sambil mengendarai keledai dan Yazid duduk dibonceng (Muawiyah). Lantas Rasul bersabda: “la’anallahu al-Qoid wa ar-rakib wa as-sa’iq” (Allah melaknat penuntun, pengendara dan penggonceng)
- Hadis pernyataan Rasul tentang Yazid; Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar al-Haitsami cet: al-Maimaniyah-Mesir thn:1312 Hal: 132 . dikeluarkan oleh ar-Rawiyani dalam musnadnya, dari Abi Darda’ yang mengatakan: aku mendengar Rasul bersabda: “Awwalu man yubaddilu sunnati rojulun min bani Umayyah yuqolu lahu Yazid” (Pertama orang yang merobah sunahku adalah seorang lelaki dari bani Umayyah yang disebut Yazid)
-Koq repot2 anda membela Muawiyah dan Yazid…cucunya aja, Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan aja ngelaknat ayah dan kekaeknya ndiri. Gak percaya? Lihat aja pada kita Showaiq al-Muhriqoh –seperti di atas- Hal: 134. dalam potongan khutbah panjang Muawiyah kedua ini, dia menyatakan: “inna hadzihi al-Khilafah hablullah wa inna jaddi Muawiyah naaza’a al-amra ahlahu wa man huwa ahaq bihi minhu Ali bin Abi Thalib…wa qod qotala itrata Rasulillah wa abaha al-Khamr wa kharraba al-Ka’bah… ” (sesungguhnya kekhilafahan ini adalah tali Allah, sesungguhnya kakekku Muawiyah merampas dari pemiliknya sedang ia (pemiliknya) lebih berhak darinya, ia adalah Ali bin abi Thalib…(sedang ttg Yazid dikatakan) dan ia telah membunuh keturunan Rasul, membolehkan (meminum) minuman keras, dan merusak Ka’bah)
Lantas layakkah manusia seperti Yazid dan Muawiyah ini disebut khalifah Rasulullah yang diakui oleh seseorang yang mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah, padahal Sunah Rasuyl telah terbukti melaknatnya. Bang Abdurrahman, apakah anda tetap bersikeras mau memilih khalifah dari preibadi yang telah dilaknat melaui lisan suci Rasulullah…? Silahkan tentukan…!
Sekarang mana bukti anda bahwa imam Hasan as mengakui kekhilafahan Muawiyah dan Yazid? Ingat, saya akan tunggu yang satu ini…
Dari sini semakin jelas siapa bang Abdurrahman Umar…
Menurut mas farah, apa konsekwensi menolak 12 imam syiah?
Wah lambat kamu bang…Kayaknya pembahasan ini dah berlalu di milist ini dech …Tanya aja ama temen2 yang lain yang dulu dah ngikuti…pendapatku juga dah terlontarkan koq. Saya gak tahu…apakah anda baca tulisan2 di milis ISLAT ini atau gak sich? Ato cuman sekedar buat raksyeh2 aja…
Filsafat? Jika untuk sampai pada kemurnian tauhid perlu filsafat, kalo saya tidak salah dengar nabi saat mendakwahi non muslim di mekah tidak pernah melalui filsafat yunani, mendakwahkan apa yang ada di dalam al qur'an. Jika al qur'an perlu dipahami pakai filsafat sudah pasti ali diperintah oleh nabi untuk belajar filsafat. Apakah orang filosof lebih mengenal Allah dari nabi dan para aimmah? Jika jawabannya tidak, maka kita tidak perlu filsafat untuk mencapai tauhid. Jika jawabnya adalah iya, filosof lebih mengenal Allah dari nabi dan aimmah, maka bagaimana hukumnya itu farah lebih tahu.
Ingat filsafat itu ilmu bang…ilmu apapun (termasuk ilmu qur’an dan hadis sekalipun) tidak akan mampu menyampaikan pada kemurnian tauhid. Kemurnian tauhid hanya dapat dicapai melalui amal. Lha amal itu harus disesuaikan dengan ilmu, dan didasari oleh ilmu. Gak asal ngamalin tanpa ilmu, atau ilmu tok tanpa amal juga gak berfungsi bang…jadi gabungan antara ilmu dan amallah yang dapat menyampaikan kepada kemurnian tauhid.
Jangan salah paham tentang pernyataan bahwa “filsafat itu penting”. Pernyataan itu sama persis dengan “ilmu tafsir penting”, “ilmu hadis penting”, ”ilmu biologi penting”, “ilmu kedokteran penting”…dsb.
Tentang kenapa Nabi gak pakai filsafat? Karena koq filsafat, baca aja gak bisa…lihat dalam sejarah berapa banyak kaum jahili saat itu yang bisa baca-tulis? Apalagi mau kotak-katik otak dengan filsafat, ya gak bakal nyambung bang…orang bijak adalah orang yang dapat menyesuaikan metode dakwahnya sesuai dengan pola pikir obyek dakwahnya. bukan berarti Rasul gak mampu pakai argument akal, cuman situsi dan kondisi kaumnya yang menuntut dan mengharuskan Rasul banyak bertabligh dengan akhlak mulia beliau, dengan ‘emosional’ bukan dengan rasional…terbukti, mayoritas kaum muslimin pertama kemunculan Islam banyak mendapat hidayah melalui akhlak pribadi Rasul yang mereka sebut dengan al-Amin…makanya sewaktu mereka Tanya sama Rasul, Rasul jawabnya sederhana aja. Apa itu Islam? Islam adalah berakhlak mulia. Namun sewaktu orang seperti Ali as melontarkan pertanyaan yang sama, maka jawaban Rasul menjawabnya gak sama…alhasil, Rasul dituntut untuk berdakwah sesuai dengan kadar dan kapasitas kemampuan obyek penerima. tapi lihat masa pasca wafat Rasul, kaum muslimin dah pinter2, dah banyak ilmunya, maka pertanyaannyapun macam2…termasuk kaitannya dengan filsafat.
Jika mas farah mau menjelaskan tentang imamah pada saya maka saya dengan senang hati menyimaknya,
Akeh tunggale bang kalo sekedar menyimak, terus langsung iseng2 tanya…
gini aja, sebagaimana yang telah saya singgung tadi, anda sampaikan pandangan anda tentang imamah sesuai dengan akidah anda, setelah itu baru saya sampaikan imamah menurut Syiah…lantas kita bandingkan, mana yang sama dan mana yang beda? Kenapa beda? Apa dalilnya?...jadi kita sama2 menyampaikan, bukan terus saya tok yang repot menjelaskan dan menjawab dengan ketikan cek enake sampean…sekali lagi maaf dech bang, selain saya sibuk, kadang2 waktu saya juga bisa lebih berharga dari hanya sekedar uang bang...jadi kalau mau sekedar nyimak dan terkadang iseng-iseng nanya, silahkan aja hadir di pengajian2 Syiah dech…ato kalo pengen tahu Syiah, baca aja buku2 Syiah yang telah beredar banyak di toko2, ingat, buku Syiah yang nulis orang Syiah, jangan buku anti Syiah yang ditulis musuh Syiah...hehehehe
Farah Izadi
Sumber: milist Islam Alternatif.com
Farah Izadi
Thursday, February 16, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment